Senin, 07 Agustus 2017

Ketika keripik kentang, keripik telo ungu dan amplang madura naik Pangkat

 

 
   Cemilan-cemilan khas indonesia dan bersifat tradisional sepertinya hanya menjadi konsumsi rakyat marjinal, produk-produk seperti keripik telo ungu, keripik kentang lokal, dan amplang madura kerap kali kita jumpai di pasar tradisional dan toko oleh lokal. Memang cemilan tradisional selain dikenal murah juga memiliki cita rasa yang tidak kalah dengan produk luar negeri.
   Sayangnya, potensi yang sedemikian besarnya, tidak banyak ditangkap oleh pengusaha-pengusaha muda atau UKM Indonesia. dibenak mereka cemilan tersebut diatas hanya cukup untuk konsumsi penduduk lokal, paling banter sebagai oleh-oleh bagi wisatawan domestik yang berkunjung didaerah.
   Sering kali kita mendengar pepatah “jangan menilai sesuatu berdasarkan kemasannya, tapi lihatlah isinya”. Dalam banyak hal memang sepertinya pepatah tersebut benar, namun didalam dunia/ Industri Makanan dan Minuman, ternyata kemasan memegang peranan yang amat sangat penting. ketika persaingan kian ketat, kemasan memegang peranan yang sangat vital. Dengan kemasan barang-barang yang berharga murah bisa di UP GRADE menjadi barang yang mahal.
keripik
   Berikut kami sampaikan ketika ketika kita ambil keripik telo ungu, keripik kentang dan amplang madura dari kemasan yang terbuat dari plastik, dikemas dengan cara yang sederhana, kemudian kita ganti kemasan dengan kemasan terbaru kita yaitu PETCAN dengan penutup aluminium diatasnya membuat, 1. kesan produk higienis, 2. kesan produk industri besar (padahal UKM) 3. kesan mewah, 4. memiliki daya jual yang tinggi.
   Dengan kemasan yang mewah, kini produk
keripik telo ungu, keripik kentang lokal dan amplang madura siap masuk BANDARA dan siap GO INTERNASIONAL.
   Semoga di era persaingan kian ketat, UKM Cerdas Indonesia dapat bersaing dengan pasar Internasional
semoga……
UKM Cerdas …… pasti mitra AA Packaging House
Salam
AA Packaging House/ Indonesia Packaging House
we grow ….. for serve

sumber: kemasan.net

Retort Pouch

 

                                                                         
 
   Ada kesamaan antara ransum tempur dengan ransum darurat. Dua-duanya diperlukan, didistribusikan dan dikonsumsi pada kondisi yang tidak normal. Karena itu, sebagai negara yang cukup sering dilanda bencana, perlu mempersiapkan ransum darurat yang sesuai, antara lain dengan belajar dari pengalaman tentara dalam mengembangkan ransumnya.
   Pada dasarnya ransum tempur (combat ration) adalah suatu menu pangan lengkap (meal) yang siap dikonsumsi; atau sering disebut sebagai Meal, Ready-to-Eat (MRE). MRE ini bisa dibuat dengan mengkombinasikan beberapa jenis pangan untuk memenuhi kriteria menu lengkap, dikemas dalam satu wadah yang ringan, sehingga mudah didistribusikan terutama dalam kondisi tempur.
retort pouch     Sebagai ransum tempur, pertama-tama, MRE harus dikembangkan untuk memberikan dukungan gizi bagi seorang tentara untuk melakukan tugas tempur dengan baik; dimana kondisi logistik pangan normal tidak mungkin dilakukan. Karena itu, ransum MRE, selain harus aman dan bergizi, juga harus memenuhi beberapa kriteria logistik yang cukup berat. Kriteria MRE itu antara lain:
Awet. MRE dipersyaratkan mempunyai umur simpan yang lama. The US Army mensyaratkan
umur simpan minimum 3 tahun pada suhu penyimpanan 27 derajad Celcius dan minimum 6 bulan pada suhu 37 derajad Celcius.
Kuat. MRE harus dikemas dengan kuat, mampu bertahan dan tidak rusak jika dijatuhkan menggunakan parasut dari pesawat dengan ketinggian 400 meter. Atau, mampu bertahan untuk dijatuhkan atau dilemparkan dengan parasut dari helikopter dengan ketinggian sekitar 30 meter. Kemasan juga harus kuat mendapatkan perlakuan kasar dan kondisi logistik, penyimpanan dan distribusi yang tidak ideal bahkan kondisi lingkungan ekstrim. Kemasan juga harus tahan terhadap ancaman binatang yang mungkin terdapat pada lingkungan darurat.
Bermutu. Terakhir, MRE tersebut akan bisa berfungsi membantu tugas tempur jika pangan tersebut dikonsumsi. Karena itu, MRE yang diproduksi harus aman, bergizi dan mempunyai kualitas organoleptik -terutama citarasa- yang bisa diterima. Persyaratan tentang kualitas organoleptik ini menjadi lebih penting untuk pengembangan ransum darurat untuk keperluan kemanusiaan (sering disebut dengan istilah Humanitarian Daily Rations, HDR). Hal ini disebabkan karena kondisi bencana tentunya memberikan efek depresi yang lebih bagi kelompok sipil daripada kelompok militer yang terlatih. Kondisi depresi sering mengakibatkan menurunnya atau bahkan hilangnya selera makan. Karena itulah pengembangan ransum darurat harus memperhatikan kebiasaan dan selera makan korban bencana. Sesuai dengan tujuannya, maka HDR disusun untuk memberikan jaminan pemenuhan keperluan gizi minimum bagi korban bencana untuk bisa tetap bertahan pada kondisi darurat.
Retort pouch
   Teknologi retort yaitu teknologi pemasakan dengan menggunakan uap atau air superheated untuk pemanasan pangan yang telah terlebih dulu dikemas, banyak digunakan untuk penyiapan MRE maupun HDR. Teknologi pengalengan bisa digunakan untuk mengolah dan mengawetkan aneka produk pangan, bahkan campuran aneka pangan dalam suatu menu jika diperlukan. Industri pengalengan pangan telah berhasil mengolah dan mengawetkan aneka jenis produk pangan; sampai ke aneka sup dan sayur lodeh dalam kaleng –misalnya. Dengan sedikit imajinasi, teknologi retort bisa digunakan untuk menghasilkan MRE atau pun HDR dengan mudah.
   Pengemas yang umum digunakan adalah kaleng dengan berbagai bentuk dan ukuran. Dalam perkembangannya, pengemas yang populer belakangan sebagai alternatif kaleng adalah pengemas fleksibel yang disebut dengan retort pouch. Retort pouch (RP) adalah bahan kemasan berlapis (laminat) fleksibel yang mampu bertahan pada suhu tinggi –suhu operasional retort. Sebagaimana namanya, RP mempunyai kemampuan untuk bertahan pada kondisi operasional retort. Dalam hal ini, produk pangan diisikan ke dalam RP dan kemudian ditutup (sealed), kemudian diikuti dengan perlakuan sterilisasi panas sebagaimana proses pengalengan pada umumnya.
   Produk pangan yang diproduksi dengan teknik pengemasan dan pengolahan semacam ini telah banyak beredar (Gambar 1), dan mulai dipasarkan di AS sejak tahun 1974. Sebelumnya, teknologi ini pertama kali diaplikasikan oleh the US Army pada akhir tahun 1960-an, untuk keperluan mengganti pengemas kaleng untuk ransum-C (C-ration). Ransum-C (Combat-ration atau C-ration) adalah ransum tempur yang dibuat oleh the US Army sejak masa Perang Dunia II. Proyek oleh the US Army ini memunculkan teknik pengemasan pangan siap makan (Meal Ready to Eat, MRE) yang masih digunakan sampai sekarang. RP –sering juga disebut flexible retort pouch (FRP)- umumnya dibuat dari dari laminat (lapisan beberapa bahan pengemas fleksibel yang direkatkan dengan sistem perekat). RP paling tidak terdiri dari 3 bahan utama; yaitu poliester, aluminum foil dan poliolefin atau polipropilene. Namun demikian, kebanyakan RP komersial dibuat dengan menggunakan 4 lapisan utama; terdiri dari lapisan poliester di bagian luar, disusul dengan lapisan nilon, lapisan aluminum foil, dan di bagian dalam yang kontak dengan produk pangan adalah lapisan polipropilen (Gambar 2). Titik leleh polipropilen adalah sekitar 138°C (280°F), lebih tinggi daripada suhu operasional retort pada umumnya yang berkisar 121°C (250˚F).
pages_report_pouch
   Aluminum foil merupakan komponen utama pengemas ini karena kemampuannya menahan transmisi oksigen. Beberapa pengemas RP ada juga yang tidak mengandung aluminium foil, diganti dengan lapisan polivinilidene klorida (PVDC, atau SARAN®), etilene vinil alcohol (EVOH), atau nilon di lapisan dalamnya. Lapisan-lapisan laminat ini direkatkan satu sama lain dengan perekat (adhesives), yang biasanya berupa etilene vinil asetat (EVA). Secara komesial, sekarang banyak ditawarkan berbagai varian bahan pengemas fleksibel yang cocok untuk teknologi retort. Perlu dicermati bahwa masing-masing lapisan berfungsi secara khusus dan bersifat kritikal pada integritas pengemas, yang akhirnya berpengaruh pada masa simpan produk. Karena itulah maka pemilihan pengemas harus disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan teknologi pemgolahan yang ada.
Keuntungan retort pouch
   Sebagai pengemas, RP atau FRP mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan kaleng (Tabel 1). RP secara umum lebih mudah dan murah, serta memberilkan fleksibelitas dalam desain grafis untuk keperluan pemasaran. Disamping itu, dengan sifat hantar panas yang lebih baik, maka produk yang dikemas dengan kemasan retort pouch proses pemanasannya akan lebih efisien, sehingga menghasilkan produk dengan mutu yang lebih baik dan penggunaan energi yang lebih efisien.
Perlu retort khusus?
   Di Jepang, teknologi RP ini mendapat sambutan konsumen dengan sangat luas, dimana di pasaran telah tersedia produk retort pouch mulai dari sukiyaki sampai aneka sup. Industri pengolahan seafood saat ini telah banyak yang mengganti kemasan kalengnya dengan pengemas RP. Berdasarkan pengalaman industri seafood, diperoleh konfirmasi bahwa waktu pengolahan produk dalam kemasan RP bisa lebih pendek dan menghasilkan mutu produk yang lebih baik. Seafood asap yang dikemas secara vakum dengan RP dan dipanaskan pada suhu diatas 230°F dengan tekanan, menghasilkan produk yang awet tanpa memerlukan pendinginan dan mutunya lebih baik daripada jika produk tersebut dikalengkan. Beberapa industri juga -Star-Kist, misalnya- menawarkan kemasan untuk industri jasa boga, diikuti dengan produk untuk konsumen retail, produk tuna yang proses dan dikemas dengan RP, sebagai hasil konversi produk sejenis yang tadinya diproduksi dengan teknologi pengalengan.
   Keawetan produk RP ini diperoleh dengan proses pemanasan sebagaimana proses pengalengan; sehingga krieteria keamanan pangan berdasarkan pada inaktivasi Clostridium botulinum merupakan hal yang harus tetap dijadikan acuan. Karena itulah maka proses pemanasan yang dilakukan harus terukur dan cukup untuk menginaktivasikan Clostridium botulinum yang tahan panas tersebut.
   Di Indonesia, beberapa industri sudah pernah memperkenalkan produk RP ini, seperti misalnya produk rendang, tuna, dan lain-lain. Salah satu kendala dari pengembangan produk ini adalah diperlukannya retort bertekanan berlebih sebagai alat pamasaknya. Penggunaan retort biasa –steam retort- untuk produk yang dikemas dengan RP akan menyebabkan tingginya kerusakan kemasan. Produk dengan kemasan RP/FRP, bisa diproses dengan baik menggunakan retort bertekanan berlebih –over pressure retort; misalnya water retort atau pun spray retort. Dengan over pressure, maka akan mengurangi kegagalan proses yang diakibatkan oleh bocor atau pecahnya kemasan (RP). Atau, untuk produk pangan yang asam atau diasamkan (acid or acidified food), penggunaan teknik dipping dalam hot water bath bisa dilakukan dengan hasil yang baik.
by : Prof. Purwiyatno Hariyadi (diambil dari food review

sumber: kemasan.net

Jangan Pernah “TAKUT” merubah desain Produk Anda

 


 
Ketika saya bertanya kepada “UKM Indonesia”, maukah desain Bapak/ Ibu saya perbaiki???
umumnya mereka menjawab :
“Desain jangan dirubah pak, nanti dipikir palsu”.
atau ” Jangan dirubah Pak…. desain ini sudah ada jaman kakek moyang saya”
atau yang lebih extream lagi “Jangankan dirubah, warna beda dikitpun jangan sampai pak, nanti dipikir palsu”, dan masih banyak lagi kekhawatiran-kekhawatiran UKM atas desain kemasannya, bahkan ada juga yang labelingnya hanya berupa tulisan hitam putih, tanpa ada gambar trus labelnya berupa foto copy an. Ngga mau diganti, katanya ini yang original …. hee…, tidak ada yang salah jika keyaninan mereka begitu, bahkan mungkin juga bisa menjaga “Ke-original-nya”.
     Kembali ke perubahan, tidak ada kegiatan yang tidak berubah di dunia ini, kecuali 1 yaitu perubahan itu sendiri. banyak perusahaan-perusahaan besar yang bersikap dinamis, artinya mereka siap dengan segala bentuk perubahan, bahkan dengan adanya perubahan diharapkan menjadi HOKY tersendiri bagi. bahkan perusahaan sekelas pertamina, mau merubah logo perusahaannya dari gambar kuda laut menjadi huruf “P” dengan mengeluarkan
dana yang tidak sedikit, bahkan mencapai milyaran rupiah.
     Oleh karena itu, kami mencoba mengajak bersama UKM Indonesia untuk bisa UP DATE dan mengikuti trend perkembangan desain, dengan harapan akan bisa membuat perbaikan-perbaikan yang bermuara kepada kesejahteraan UKM Indonesia sendiri.
     Semoga, dengan hadirnya AA Packaging House (Indonesia Packaging House) dapat memberi warna kemasan UKM di seluruh nusantara yang kami cintai ini, dan pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan UKM Indonesia…… SEMOGA
Salam Hangat dari kami
AA Packaging House Indonesia
we grow for serve

sumber: kemasan.net

Stadartisasi Kemasan UKM

1771389_dsc01609
Tentunya kita sering kemini market-mini market di sekitar kita, umumnya lebih dari 90% adalah produk-produk perusahaan-perusahan besar skala nasional dan multinasional, bahkan tidak sedikit juga produk Import. Semua tertata rapi di rak-rak yang strategis, kemasan yang bagus yang ditopang dengan desain unik dan menarik, seakan menjadi sihir tersendiri bagi konsumen untuk sekedar mengambil, memperhatikan/ membaca dan jika beruntung akan dimasukkan kedalam keranjang belanjaan.
Lain perusahaan besar/ multinasional, lain juga UKM kita. Umumnya, urusan kemasan UKM tergantung sekali dengan penyedia kemasan. Jika kemasannya adalah kemasan yang sudah banyak beredar dan banyak dijual di toko-toko, maka hal itu menjadi tidak masalah bagi UKM. Namun jika penyedia tidak banyak, mis : kemasan Aluminium foil. maka UKM tergantung sekali pada penyedia kemasan.
Banyak penyedia kemasan skala UKM (dalam hal ini alufoil) yang hanya membuat kemasan dengan ukuran “semau GUE”. artinya penyedia kemasan tersebut membuat kemasan sesuai dengan material yang tersedia dan ukurannya berubah-ubah sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan, ditambah lagi dengan ketebalan kemasan yang selalu berubah-ubah, dan masih ada lagi yaitu warna yang tidak standart dan berubah-ubah.
Memang….. kemasan yang : Ukurannya “semau Gue”, Ketebalannya “bukan urusan saya” dan warnanya selalu berubah-ubah memiliki 1 (satu) keunggulan, yaitu harganya cenderung MURAH dibawah harga dasar kemasan itu sendiri. namun jika menjadi pilihan UKM, maka siap-siap produk kita di-MUSEUM-kan.
sebab :
1.kita patut bertanya, bagaimana bisa menjual dibawah harga dasar.
2.ukuran kemasan yang tidak standart (beda-beda) membuat pembeli ragu ??? ada apa dengan kemasannya.
3.warna kemasan yang sering berubah-ubah membuat pelanggan juga bertanya-tanya, mengapa warna kemasan (bukan label) kok bisa beda-beda??? apakah ini palsu,dll.
4.tiap-tiap jenis material memiliki fungsi dan manfaat berbeda, sehingga kualitas akan beda jika menggunakan kemasan yang tidak menentu.
5.dan masih banyak lagi.
Jika anda ingin info detail mengenai kemasan yang cocok dengan produk anda, jangan ragu-ragu email ke atau phone call 08123545630 (No SMS).
Semoga UKM Indonesia semakin BERJAYA
salam hormat dari kami AA Packaging House

Salam hormat kami,
AA PH Indonesia

sumber: kemasan.net

UKM Indonesia VS Perusahaan skala nasional/ Multinasional (part III)

                                                                                            Desain Grafis

VS jagung
Satu hal yang umumnya dapat dipastikan mengenai kemasan UKM adalah : Desain Grafis UKM umumnya sangat sederhana dan kurang menarik. bahkan beberapa UKM masih saja memberikan label pada kemasan produknya berupa label hasil FOTO COPY an. karena dinilai murah dan meriah, padahal jika kita tahu lebih banyak tentang kesehatan, tinta yang menempel di kertas, jika bermigrasi ke produk makanan, maka tinta tersebut akan menjadi pemicu kanker.
Kembali lagi ke desain grafis, karena keterbatasan kemampuan mendesain dan keterbatasan finansial (membayar desainer) menyebabkan UKM pada umumnya membuat label asal-asalan, padahal dewasa ini label adalah salah satu komponen dalam memasarkan suatu produk.
Label yang cantik dan menarik akan lebih disukai oleh pembeli. ditambah lagi penyampaian-penyampaian informasi yang akurat dan lengkap mengenai produk pada LABEL akan menambah keyakinan pembeli untuk mengkonsumsi produk dengan membelinya.
Dengan keterbatasan-keterbatasan ini, kami AA Packaging House Indonesia, ingin berpartisipasi untuk meningkatkan mutu kemasan UKM Indonesia dengan cara menyediakan tenaga untuk memberikan desain grafis untuk labelling secara GRATIS khusus untuk UKM Indonesia yang ingin mencetak stikernya di tempat kami. semoga dengan adanya perubahan-perubahan dan salah satunya adalah desain grafis yang cantik dan menarik, membuat calon pembeli semakin meningkat dan disertai juga dengan peningkatan pembelian dan pada akhirnya tercapai kesejahteraan UKM Indonesia.
Ayoo….
Dukung UKM Indonesia menghadapi MEA 2015
dengan membeli produk UKM
dan STOPP membeli produk IMPORT

sumber: kemasan.net

UKM Indonesia VS Perusahaan skala nasional/ Multinasional (part II)

 

     Jika kita shopping di Mall, Coba sejenak kita perhatikan rak-rak yang berisi makanan dan snack. tentunya beragam warna, corak dan bentuk kemasan. Dan ke-semua-nya seolah berteriak.. “ambil aku… ambil aku”. menarik sekali produk-produk yang ditampilkan, sehingga tanpa seorang pramu-niaga-pun seolah-olah ada magnet yang menggerakkan otak kita diteruskan ke kaki dan di eksekusi oleh tangan kita.
     Sebagai perusahaan yang berskala Nasional/ Multinasional, mereka memiliki team sendiri untuk tiap-tiap bagiannya, ada team produksi, team keuangan, team marketing, bahkan ada pula team khusus untuk kemasan. sehingga, wajar-wajar saja jika produk dan kemasan mereka serasi dan memiliki daya tarik bagi konsumen. dilain pihak UKM, umumnya memiliki segudang permasalahan, sehingga jangankan membuat team khusus untuk tiap-tiap bagian, bahkan banyak pula pemilik merangkap pimpinan perusahaan, merangkap bagian pembelian, bagian produksi, bagian pengemasan, bagian pemasaran, bagian keuangan dan sekaligus menjadi
debt collector bagi usahanya sendiri. complicated bukan ????, yah… itulah romantika UKM Indonesia
     Kembali ke desain bentuk kemasan, umumnya… UKM lebih suka meniru produk-produk UKM lainnya yang laku keras dipasar. prilaku ini sudah mendarah daging di kalangan UKM, sehingga daya tarik jualannya hanya sebatas peniru, bukan leader. tapi hal itu tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah “apakah cocok desain bentuk kemasan tersebut” untuk produk yang hendak dikemas ????. itu menjadi pertanyaan yang kritikal.
     Untuk saat ini, desain bentuk kemasan yang lagi in dan diminati adalah “Stand Up Pouch dengan zipperlock”. selain tampilannya ciamik soro…, harganya juga murah meriah.
     Jika produk yang dikemas sesuai dengan bentuk/ model kemasan, serta sesuai juga dengan kriteria jenis kemasan, maka hal tersebut menjadi keuntungan yang maksimal bagi UKM Indonesia dalam memasarkan produknya, namun jika tidak, maka akan merugikan dalam jangka panjang. untuk itu, baiknya UKM Indonesia selalu berkonsultasi dengan ahlinya (dalam hal ini AA Packaging house Indonesia….. heee…. promosi sekaligus percaya diri).
Baiklah….. cukup untuk penjelasan desain bentuk kemasan, akan kita sambung lagi dilain waktu untuk part selanjutnya,
semoga UKM Indonesia jaya
Salam
sumber: kemasan.net

Tahukah Anda ??? (masih seputar kemasan)

 


11
 
SUP
   Bagi pengrajin/ Pengusaha yang biasa menggunakan stand up pouches sebagai salah satu kemasan favoritnya, secara langsung atau tidak langsung pernah melihat bentuk/ pola lingkaran serta elips yang memanjang disekitar ujung bagian bawah. umumnya ada 3 pola, yang pertama bulat, kedua agak lonjong dan yang ketiga sangat lonjoong sekali. Sebenernya apa sih fungsinya ???
   Bagi yang penasaran pasti akan berusaha mencari jawabannya, namun sayang hampir-hampir kita tidak menemukan jawaban yang tepat. Boro-boro ada dalam artikel berbahasa Indonesia, kita cari di literature asingpun sepertinya agak susah, selain susah apa
yaa clue-nya untuk pertanyaan kita.
   Baik lah, ga ada salahnya berbagi/ sharing ilmu, seperti yang pernah kami sampaikan bahwa tidak ada hal-hal yang kami sembunyikan dalam masalah berbagi Ilmu. Sebenarnya jawabannya sangat mudah sekali, namun jika saya berikan begitu saja, tanpa memberikan ilustrasi…DIJAMIN… pasti mudah lupa,  karena jawabannya cukup ribet (padahal yaa sangat sederhana) maka sedikit banyak kita akan meluangkan waktu untuk membaca sharing kami.
   Saya yakin hampir kita semua pernah melekatkan stiker pada suatu benda, apakah itu kemasan, dinding, kaca, atau para autolover pasti suka memberi asesoris kendaraan mereka baik itu Motor maupun Mobil. Yaa ada stiker hadiah ada juga stiker yang kita beli, dan sepertinya asik sekali melekatkan stiker pada kendaraan kita. Namun, hampir disetiap kita menempel sepertinya hasil tempelan kita kurang sempurna (terutama pada stiker yang cukup luas).
page
   Ada gelembung-gelembung udara yang terperangkap didalam kemasan, dan ini sangat mengganggu sekali akan keindahan hasil tempelan, biasanya kita sering memencet gelembung tersebut hingga bergerak kepinggir, dan akhirnya bisa keluar, namun jika gelembung gelembung itu jumlahnya banyak maka umumnya kita memberi lubang dan kita pencet sehingga udara keluar dan tampilannya menjadi OK.
   Lantas apa kaitannya dengan kemasan Stand Up Pouches, kaitannya adalah….  gelembung yang 3 tadi yang berbentuk lingkaran, elips dan elips yang sangat panjang adalah alokasi tempat berkumpulnya gelembung-gelembung disekitar area sealer, sehingga area yang di sealer tampak rapi dan cantik.
   Nah… Sahabat Kemasan Indonesia, simple kan jawabannya, semoga dengan berbaginya kita, dapat menjadi jembatan persaudaraan kita dan dukung terus UKM Indonesia untuk selalu maju dengan cara membeli produk-produk UKM,  cintailah produk-produk Indonesia (bukan : Cina ilah ploduk ploduk Indonesia).
Salam Hormat Kami
AA Packaging Team
sumber: kemasan.net

Syarat display yang baik

 

                                                                                        
4
 
      Di samping mengacu pada logika konsumen dalam menjalankan aktivitas display, para peritel juga harus memperhatikan aspek-aspek penting lainnya yang merupakan syarat dalam mewujudkan display yang baik, yaitu:
1.  Display harus mampu membuat barang-barang yang dipajang menjadi mudah dilihat, mudah dicari dan mudah dijangkau. Ketiga hal ini merupakan syarat mutlak yang harus mampu diwujudkan oleh aktivitas display. Jika tidak, display yang menarik dan se-atraktif apapun akan sia-sia.
                                                    
2.  Display harus memerhatikan aspek keamanan, baik keamanan bagi pengelola toko dari potensi-potensi kehilangan, maupun keamanan bagi pengunjung (konsumen) yang berada di dalam toko, berkaitan dengan aspek keamanan ini, para peritel biasanya tidak akan menempatkan barang-barang yang mudah pecah di sembarang rak. Barang-barang yang mahal, terutama yang fisik ukurannya kecil biasanya di pajang di etalase. Barang-barang kemasan kaleng yang cukup berat juga biasanya ditempatkan pada shelve paling
bawah untuk menghindari resiko timbulnya cedera bagi pengunjung (terutama anak-anak) jika barang tersebut terjatuh.
                                                    
3. Display yang dilakukan oleh peritel harus informative dan komunikatif, para peritel dapat memanfaatkan alat alat bantu seperti standing poster materials yang lain
                                                                               
sumber: kemasan.net

Meregenerasi silaca gel ….. apa bisa ???

 


Silica Gel ……
Tentunya semua orang tau, itu lho kemasan sachet kertas untuk pengatur kelembaban pada kemasan suatu produk tertentu, bentuknya seperti buliran-buliran kecil warna biru tua. Jika kita membeli katakanlah vitamin c dalam kemasan botol kecil, umumnya kita akan menemukan silica gel ini. pada produk produk makanan ringan/ snack (biasanya produk import) juga kita temui.
Sebenarnya silica gel itu apa siih…..
Gel silika adalah butiran seperti kaca dengan bentuk yang sangat berpori, silika dibuat secara sintetis dari natrium silikat. Walaupun namanya, gel silika padat. Gel silika adalah mineral alami yang dimurnikan dan diolah menjadi salah satu bentuk butiran atau manik-manik. Sebagai pengering, ia memiliki ukuran pori rata-rata 2,4 nanometer dan memiliki afinitas (kecenderungan suatu unsur atau senyawa untuk membentuk ikatan kimia dng unsur atau senyawa lain) yang kuat untuk molekul air. (wiki)
Tuh kan pusing, jangan khawatir, sebentar lagi akan saya buat lebih pusing lagi. Trus bagaimana sih penguunaan silica gel itu, apa ga ada ketentuannya, atau langsung aja cemplungin ke kemasan produk tanpa takaran tertentu hee…..
silica
Tentunya semua ada takarannya, contoh : mis. kia memiliki kemasan ukuran 1000 g, yang akan kita isi gula pasir. jika kita isi penuh (mis. vol = 900 cc). tentunya kita ndak mungkin isi penuh full 100%, maka katakanlah kita isi sebanyak 70% maka sisa rongga udara adalah 30% x 900 cc = 270 cc.
Asumsi. Jika kelembaban udara adala 80% dan rata-rata suhu adalah 30 C dan kandungan uap air 30.1g/M3, dan daya serap silica gel 30% atau 0.3 g H2O/g silica gel, maka silica gel untuk kemasan gula tersebut diatas adalah 270 x 30.1/M3 : 0.3 = 0.081 : 0.3 = 0.27 g silica gel
(atau cukup 1 sachet silica gel dengan ukuran terkecil yang ada di pasaran yaitu 1 g)
cukup mudah kan….. atau tambah ngga ngerti… heee…..
Biasanya, kalo kita punya silica gel dan sudah berwarna pink, umumnya silica gel tersebut kita buang,
tapi tau ngga kalo silica gel tersebut masih bisa digunakan kembali…. ????
Jangan bilang siapa - siapa yaaa….
Silica gel yang siap untuk digunakan berwarna biru. Ketika silica gel telah menyerap banyak kelembapan, ia akan berubah warnanya menjadi pink(merah muda). Ketika ia berubah menjadi warna pink(merah muda), ia tidak bisa lagi menyerap kelembapan. Ia harus meregenerasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menghangatkannya di dalam mesin oven. Panasnya mengeluarkan kelembapan, lalu ia akan berubah warnanya menjadi biru dan kembali bisa digunakan. (wiki)
Yaudah…..
Sementara kuliah kita tutup sampai disini aja yaaa
dari pada pusing….
Semoga yang sedikit ini bermanfaat
sumber: kemasan.net

Kemasan Aktif/ Active Packaging

                                                                  
1 July 2015  Sejarah Kemasan
Dear All
Pernah suatu saat, disuatu forum, saya bertanya kepada audience mengenai kemasan aktif, jawabannya bermacam-macam, namun yang sering muncul adalah kemasan yang dapat dipakai segala jenis produk dan dapat dipakai berulang-ulang.
Apakah jawaban mereka benar ???
Tentu saja tidak hee….
Kemasan aktif / Active packaging merupakan kemasan yang dapat bekerja secara aktif untuk melindungi produk pangan agar tetap segar hingga ke tangan konsumen. Contohnya moisture absorber dan oxygen absorber.
Multisorb-absorber
Kemasan aktif sering disalah artikan sebagai pengawet, padahal kemasan aktif bukanlah pengawet. Kemasan aktif bekerja dengan cara memodifikasi kondisi udara di dalam kemasan sehingga tercapai kondisi yang diperlukan bahan pangan untuk tetap awet. Secara umum terdapat dua jenis bahan kemasan aktif yang sering ditemukan dalam kemasan pangan, yaitu moisture absorber dan oxygen absorber. Moisture absorber adalah penyerap kelembaban yang berfungsi untuk mengatasi masalah uap air. Sedangkan oxygen absorber adalah penyerap oksigen yang berfungsi untuk mengatasi masalah dengan oksigen.
Untuk menentukan produk Kemasan aktif yang tepat guna, perlu dicari tahu terlebih dahulu, masalah kerusakan apa yang dihadapi oleh produk masing-masing. Sebagai contoh, Kue kering yang dioven umumnya akan mengalami masalah menjadi melempem. Keripik tempe yang digoreng akan mengalami bau tengik, Kacang tanah akan mengalami bau tengik, Kue lapis legit akan tengik dan berjamur,
Keripik Buah yang digoreng dengan vaccum frying mudah melempem. Dodol akan mudah berjamur, dan masih banyak kasus lain yang dapat diselesaikan jika berhasil menghindarkan produk pangan dari uap air maupun oksigen.
Setelah mengetahui secara jelas masalah yang dihadapi masing masing produk, maka akan lebih mudah untuk menentukan solusi yang tepat kemasan aktif apa yang akan kita pilih. Untuk melempem tentunya perlu menggunakan desiccant/ penyerap kelembapan (moisture absorber), sedang untuk tengik, berubah warna, jamuran, kita dapat menggunakan oxygen absorber.
oxygen absorber
Jadi jangan salah pilih kemasan aktif yaaa…..
Semoga bermanfaat.

sumber: kemasan.net

Ketika keripik kentang, keripik telo ungu dan amplang madura naik Pangkat

Ketika keripik kentang, keripik telo ungu dan amplang madura naik Pangkat Publi...