Retort Pouch
- Hits: 168

Ada kesamaan antara ransum tempur dengan ransum darurat. Dua-duanya
diperlukan, didistribusikan dan dikonsumsi pada kondisi yang tidak
normal. Karena itu, sebagai negara yang cukup sering dilanda bencana,
perlu mempersiapkan ransum darurat yang sesuai, antara lain dengan
belajar dari pengalaman tentara dalam mengembangkan ransumnya.
Pada dasarnya ransum tempur (combat ration) adalah suatu menu pangan
lengkap (meal) yang siap dikonsumsi; atau sering disebut sebagai Meal,
Ready-to-Eat (MRE). MRE ini bisa dibuat dengan mengkombinasikan beberapa
jenis pangan untuk memenuhi kriteria menu lengkap, dikemas dalam satu
wadah yang ringan, sehingga mudah didistribusikan terutama dalam kondisi
tempur.
Sebagai ransum tempur, pertama-tama, MRE harus dikembangkan untuk
memberikan dukungan gizi bagi seorang tentara untuk melakukan tugas
tempur dengan baik; dimana kondisi logistik pangan normal tidak mungkin
dilakukan. Karena itu, ransum MRE, selain harus aman dan bergizi, juga
harus memenuhi beberapa kriteria logistik yang cukup berat. Kriteria MRE
itu antara lain:
Awet. MRE dipersyaratkan mempunyai umur simpan yang lama. The US Army mensyaratkan
umur simpan minimum 3 tahun pada suhu penyimpanan 27 derajad Celcius dan minimum 6 bulan pada suhu 37 derajad Celcius.
Kuat. MRE
harus dikemas dengan kuat, mampu bertahan dan tidak rusak jika
dijatuhkan menggunakan parasut dari pesawat dengan ketinggian 400 meter.
Atau, mampu bertahan untuk dijatuhkan atau dilemparkan dengan parasut
dari helikopter dengan ketinggian sekitar 30 meter. Kemasan juga harus
kuat mendapatkan perlakuan kasar dan kondisi logistik, penyimpanan dan
distribusi yang tidak ideal bahkan kondisi lingkungan ekstrim. Kemasan
juga harus tahan terhadap ancaman binatang yang mungkin terdapat pada
lingkungan darurat.
Bermutu. Terakhir,
MRE tersebut akan bisa berfungsi membantu tugas tempur jika pangan
tersebut dikonsumsi. Karena itu, MRE yang diproduksi harus aman, bergizi
dan mempunyai kualitas organoleptik -terutama citarasa- yang bisa
diterima. Persyaratan tentang kualitas organoleptik ini menjadi lebih
penting untuk pengembangan ransum darurat untuk keperluan kemanusiaan
(sering disebut dengan istilah Humanitarian Daily Rations, HDR). Hal ini
disebabkan karena kondisi bencana tentunya memberikan efek depresi yang
lebih bagi kelompok sipil daripada kelompok militer yang terlatih.
Kondisi depresi sering mengakibatkan menurunnya atau bahkan hilangnya
selera makan. Karena itulah pengembangan ransum darurat harus
memperhatikan kebiasaan dan selera makan korban bencana. Sesuai dengan
tujuannya, maka HDR disusun untuk memberikan jaminan pemenuhan keperluan
gizi minimum bagi korban bencana untuk bisa tetap bertahan pada kondisi
darurat.
Retort pouch
Teknologi retort yaitu teknologi pemasakan dengan menggunakan uap atau
air superheated untuk pemanasan pangan yang telah terlebih dulu dikemas,
banyak digunakan untuk penyiapan MRE maupun HDR. Teknologi pengalengan
bisa digunakan untuk mengolah dan mengawetkan aneka produk pangan,
bahkan campuran aneka pangan dalam suatu menu jika diperlukan. Industri
pengalengan pangan telah berhasil mengolah dan mengawetkan aneka jenis
produk pangan; sampai ke aneka sup dan sayur lodeh dalam kaleng
–misalnya. Dengan sedikit imajinasi, teknologi retort bisa digunakan
untuk menghasilkan MRE atau pun HDR dengan mudah.
Pengemas yang umum digunakan adalah kaleng dengan berbagai bentuk dan
ukuran. Dalam perkembangannya, pengemas yang populer belakangan sebagai
alternatif kaleng adalah pengemas fleksibel yang disebut dengan retort
pouch. Retort pouch (RP) adalah bahan kemasan berlapis (laminat)
fleksibel yang mampu bertahan pada suhu tinggi –suhu operasional retort.
Sebagaimana namanya, RP mempunyai kemampuan untuk bertahan pada kondisi
operasional retort. Dalam hal ini, produk pangan diisikan ke dalam RP
dan kemudian ditutup (sealed), kemudian diikuti dengan perlakuan
sterilisasi panas sebagaimana proses pengalengan pada umumnya.
Produk pangan yang diproduksi dengan teknik pengemasan dan pengolahan
semacam ini telah banyak beredar (Gambar 1), dan mulai dipasarkan di AS
sejak tahun 1974. Sebelumnya, teknologi ini pertama kali diaplikasikan
oleh the US Army pada akhir tahun 1960-an, untuk keperluan mengganti
pengemas kaleng untuk ransum-C (C-ration). Ransum-C (Combat-ration atau
C-ration) adalah ransum tempur yang dibuat oleh the US Army sejak masa
Perang Dunia II. Proyek oleh the US Army ini memunculkan teknik
pengemasan pangan siap makan (Meal Ready to Eat, MRE) yang masih
digunakan sampai sekarang. RP –sering juga disebut flexible retort pouch
(FRP)- umumnya dibuat dari dari laminat (lapisan beberapa bahan
pengemas fleksibel yang direkatkan dengan sistem perekat). RP paling
tidak terdiri dari 3 bahan utama; yaitu poliester, aluminum foil dan
poliolefin atau polipropilene. Namun demikian, kebanyakan RP komersial
dibuat dengan menggunakan 4 lapisan utama; terdiri dari lapisan
poliester di bagian luar, disusul dengan lapisan nilon, lapisan aluminum
foil, dan di bagian dalam yang kontak dengan produk pangan adalah
lapisan polipropilen (Gambar 2). Titik leleh polipropilen adalah sekitar
138°C (280°F), lebih tinggi daripada suhu operasional retort pada
umumnya yang berkisar 121°C (250˚F).

Aluminum foil merupakan komponen utama pengemas ini karena kemampuannya
menahan transmisi oksigen. Beberapa pengemas RP ada juga yang tidak
mengandung aluminium foil, diganti dengan lapisan polivinilidene klorida
(PVDC, atau SARAN®), etilene vinil alcohol (EVOH), atau nilon di
lapisan dalamnya. Lapisan-lapisan laminat ini direkatkan satu sama lain
dengan perekat (adhesives), yang biasanya berupa etilene vinil asetat
(EVA). Secara komesial, sekarang banyak ditawarkan berbagai varian bahan
pengemas fleksibel yang cocok untuk teknologi retort. Perlu dicermati
bahwa masing-masing lapisan berfungsi secara khusus dan bersifat
kritikal pada integritas pengemas, yang akhirnya berpengaruh pada masa
simpan produk. Karena itulah maka pemilihan pengemas harus disesuaikan
dengan kebutuhan dan ketersediaan teknologi pemgolahan yang ada.
Keuntungan retort pouch
Sebagai pengemas, RP atau FRP mempunyai beberapa keunggulan
dibandingkan dengan kaleng (Tabel 1). RP secara umum lebih mudah dan
murah, serta memberilkan fleksibelitas dalam desain grafis untuk
keperluan pemasaran. Disamping itu, dengan sifat hantar panas yang lebih
baik, maka produk yang dikemas dengan kemasan retort pouch proses
pemanasannya akan lebih efisien, sehingga menghasilkan produk dengan
mutu yang lebih baik dan penggunaan energi yang lebih efisien.
Perlu retort khusus?
Di Jepang, teknologi RP ini mendapat sambutan konsumen dengan sangat
luas, dimana di pasaran telah tersedia produk retort pouch mulai dari
sukiyaki sampai aneka sup. Industri pengolahan seafood saat ini telah
banyak yang mengganti kemasan kalengnya dengan pengemas RP. Berdasarkan
pengalaman industri seafood, diperoleh konfirmasi bahwa waktu pengolahan
produk dalam kemasan RP bisa lebih pendek dan menghasilkan mutu produk
yang lebih baik. Seafood asap yang dikemas secara vakum dengan RP dan
dipanaskan pada suhu diatas 230°F dengan tekanan, menghasilkan produk
yang awet tanpa memerlukan pendinginan dan mutunya lebih baik daripada
jika produk tersebut dikalengkan. Beberapa industri juga -Star-Kist,
misalnya- menawarkan kemasan untuk industri jasa boga, diikuti dengan
produk untuk konsumen retail, produk tuna yang proses dan dikemas dengan
RP, sebagai hasil konversi produk sejenis yang tadinya diproduksi
dengan teknologi pengalengan.
Keawetan produk RP ini diperoleh dengan proses pemanasan sebagaimana
proses pengalengan; sehingga krieteria keamanan pangan berdasarkan pada
inaktivasi Clostridium botulinum merupakan hal yang harus tetap
dijadikan acuan. Karena itulah maka proses pemanasan yang dilakukan
harus terukur dan cukup untuk menginaktivasikan Clostridium botulinum
yang tahan panas tersebut.
Di Indonesia, beberapa industri sudah pernah memperkenalkan produk RP
ini, seperti misalnya produk rendang, tuna, dan lain-lain. Salah satu
kendala dari pengembangan produk ini adalah diperlukannya retort
bertekanan berlebih sebagai alat pamasaknya. Penggunaan retort biasa
–steam retort- untuk produk yang dikemas dengan RP akan menyebabkan
tingginya kerusakan kemasan. Produk dengan kemasan RP/FRP, bisa diproses
dengan baik menggunakan retort bertekanan berlebih –over pressure
retort; misalnya water retort atau pun spray retort. Dengan over
pressure, maka akan mengurangi kegagalan proses yang diakibatkan oleh
bocor atau pecahnya kemasan (RP). Atau, untuk produk pangan yang asam
atau diasamkan (acid or acidified food), penggunaan teknik dipping dalam
hot water bath bisa dilakukan dengan hasil yang baik.
by : Prof. Purwiyatno Hariyadi (diambil dari food review
sumber: kemasan.net
Apakah bisa supplai kemasan retort standing pouch yg ada aluminium foilnya?
BalasHapusTerima kasih